Achmad Jainuri (Rektor UMSIDA)
Dalam konteks UMSIDA, Corporate culture atau organizational culture dapat didefinisikan sebagai kumpulan nilai dan norma tertentu yang dimiliki oleh semua karyawan dan yang mengontrol cara bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain dan dengan para stakeholders di luar UMSIDA. Jadi corporate culture itu menuntut adanya norma moral, sosial, dan prilaku organisasi berdasarkan nilai, keyakinan, sikap, dan prioritas program yang dimiliki oleh para karyawan. Nilai-nilai yang dimaksud itu adalah, pertama, keyakinan yang menjadi dasar para karyawan mencapai tujuan; dan, kedua, adalah ide-ide yang menjadi standar prilaku yang digunakan oleh para pimpinan dan karyawan untuk mencapai tujuan. Dari nilai-nilai yang disebutkan di atas akan muncul norma dan pedoman lembaga yang menjelaskan prilaku yang tepat yang menjadi acuan para karyawan pada situasi tertentu dan alat kontrol prilaku sesama karyawan.
Apa sesungguhnya standar nilai dan norma yang dimaksudkan di atas itu dan bagaimana mereka bisa membentuk budaya korporatif setiap individu karyawan. Ada enam karakteristik penting menurut Kotelnikov, penemu Ten3 Business e-Coach, yang bisa dijadikan alat untuk mengukurnya. Pertama, berbuatlah banyak dari pada hanya sekedar melakukan sesuatu. Kerja asal-asalan bukanlah ciri dari budaya korporasi. Namun demikian, harus dipahami bahwa kesalahan dan kekeliruan karena melakukan sesuatu itu lebih baik dari pada bersih tanpa kesalahan karena tidak melakukan apa-apa. Kedua, tenaga terlatih dan selalu melatih diri. Kompetensi dan keterampilan hendaknya menjadi acuan syarat karyawan. Ketiga, memanfaatkan setiap kesempatan. Tidak ada penundaan pekerjaan dan pelayanan. Keempat, jujur kepada lembaga. Sifat ini akan menghindari upaya eksploitasi terhadap lembaga. Kelima, selalu mencarikan pemecahan setiap persoalan, bukan menambah persoalan. Keenam, senang terhadap pekerjaan yang diembannya dan melakukan semuanya dengan senyum dan gembira. Dalam konteks UMSIDA corporate culture tergambarkan dalam prilaku karyawan atau satuan kerja yang memiliki otoritas menjalankan tugas suatu unit dengan dasar aturan yang ada. Mereka menerapkan nilai korporasi dan standar prilaku yang merefleksikan tujuan lembaga. Kelompok pekerja yang ada di lembaga memiliki sikap dan berinteraksi antar sesama yang kemudian membentuk sebuah sistem. Budaya bisa saja diperkaya dari unsur luar, misalnya, penggunaan teknologi informasi. Bahasa dan prilaku teknologi ini memang dari luar lembaga, tetapi kehadirannya bisa mempengaruhi budaya organisasi secara keseluruhan.
Sumber: umsida.ac.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar